Lewati ke konten utama
Ketika "Penyebaran Budaya LGBTQ" Masuk Dokumen Pertahanan Negara: Apa yang Sebenarnya Diatur?

Ketika "Penyebaran Budaya LGBTQ" Masuk Dokumen Pertahanan Negara: Apa yang Sebenarnya Diatur?

19 July 2026 3 menit baca

Tidak banyak Peraturan Presiden yang mampu memantik perdebatan publik seluas Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029. Bukan karena mengubah postur militer...

Tidak banyak Peraturan Presiden yang mampu memantik perdebatan publik seluas Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029. Bukan karena mengubah postur militer atau strategi pertahanan Indonesia, melainkan karena satu frasa yang muncul di dalam lampirannya: "penyebaran budaya LGBTQ" ditempatkan sebagai salah satu bentuk ancaman nonmiliter pada dimensi sosial dan budaya.

Sejak pertama kali beredar, frasa tersebut segera melahirkan beragam tafsir. Sebagian menganggap negara tengah mengkriminalisasi kelompok LGBTQ, sementara sebagian lain menilai pemerintah sekadar memperbarui peta ancaman terhadap ketahanan nasional. Di tengah silang pendapat tersebut, satu hal yang justru luput dari perhatian adalah bagaimana membaca Perpres ini secara tepat sebagai sebuah norma hukum.

Persoalan pertama yang harus diluruskan ialah mengenai karakter Perpres itu sendiri. Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 bukanlah regulasi yang mengatur perilaku warga negara ataupun membentuk larangan baru. Ia merupakan dokumen kebijakan umum pertahanan yang menjadi pedoman bagi penyelenggaraan sistem pertahanan negara dalam lima tahun ke depan. Karena itu, pencantuman suatu fenomena sebagai ancaman nonmiliter tidak serta-merta mengubah status hukum seseorang, apalagi melahirkan tindak pidana baru.

Hal yang menarik justru terletak pada pilihan diksi yang digunakan pemerintah. Lampiran Perpres tidak menyebut "LGBTQ" sebagai ancaman, melainkan "penyebaran budaya LGBTQ." Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi dalam hukum administrasi negara maupun teknik pembentukan peraturan perundang-undangan, pilihan istilah memiliki arti yang tidak pernah sederhana. Setiap frasa menentukan ruang lingkup norma, sekaligus batas kewenangan pemerintah dalam menerjemahkannya ke dalam kebijakan.

Masalahnya, Perpres tersebut tidak memberikan definisi mengenai apa yang dimaksud dengan "penyebaran budaya LGBTQ". Padahal, asas kejelasan rumusan merupakan salah satu syarat fundamental dalam pembentukan regulasi. Ketika suatu istilah strategis dibiarkan tanpa definisi, ruang interpretasi menjadi sangat luas. Akibatnya, batas antara kebijakan pertahanan dan pembatasan terhadap hak-hak warga negara dapat menjadi kabur apabila tidak dikendalikan oleh prinsip-prinsip negara hukum.

Di sisi lain, tidak tepat pula apabila setiap kebijakan pertahanan dipandang identik dengan kriminalisasi. Konsep ancaman nonmiliter dalam sistem pertahanan Indonesia memang sejak lama mencakup spektrum yang luas, mulai dari ancaman ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan siber, hingga disinformasi. Dalam perspektif pertahanan negara, pemerintah memiliki ruang konstitusional untuk mengidentifikasi berbagai perkembangan yang dinilai berpotensi memengaruhi ketahanan nasional.

Namun, kewenangan tersebut bukanlah kewenangan yang tanpa batas. Indonesia adalah negara hukum. Setiap tindakan pemerintah yang berpotensi membatasi hak warga negara tetap harus memiliki dasar hukum yang jelas, memenuhi tujuan yang sah, serta dilaksanakan secara proporsional. Sebuah dokumen kebijakan pertahanan tidak dapat dengan sendirinya menjadi legitimasi untuk melakukan pembatasan hak, diskriminasi, ataupun tindakan represif terhadap kelompok tertentu.

Di titik inilah diskursus mengenai Perpres Nomor 111 Tahun 2025 seharusnya ditempatkan. Perdebatan publik tidak semata-mata mengenai setuju atau tidak setuju terhadap substansi kebijakan pemerintah, melainkan mengenai bagaimana sebuah kebijakan strategis dirumuskan secara cermat agar tidak membuka ruang multitafsir yang berlebihan. Dalam negara demokrasi, kejelasan norma merupakan prasyarat bagi kepastian hukum, sedangkan kepastian hukum merupakan fondasi bagi perlindungan hak konstitusional setiap warga negara.

Pada akhirnya, isu yang paling penting bukanlah apakah negara berwenang menyusun peta ancaman nasional—karena kewenangan itu memang diberikan oleh konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap klasifikasi ancaman tidak bergeser menjadi instrumen pembatasan hak tanpa dasar hukum yang memadai. Negara berhak menyusun strategi pertahanan, tetapi negara hukum mengharuskan setiap strategi tersebut tetap tunduk pada konstitusi, asas legalitas, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Di situlah keseimbangan antara kepentingan pertahanan dan prinsip negara hukum harus senantiasa dijaga.

Kolaborasi Editorial

Punya topik hukum yang perlu dibahas lebih dalam?

Ajak Edulaw Project mengembangkan tulisan, diskusi, atau serial edukasi hukum yang relevan untuk pembaca Anda.

Baca Juga

Lanjutkan membaca perspektif dan analisis hukum yang masih berkaitan dengan topik ini.

Lihat Semua Editorial
MK Tak Temukan Bukti Gibran Memiliki Ijazah, Mengapa Tetap Tak Membatalkan Jabatannya?

Regulatory Update

MK Tak Temukan Bukti Gibran Memiliki Ijazah, Mengapa Tetap Tak Membatalkan Jabatannya?

Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan yang menunjukkan Gibran Rakabuming Raka (Wakil Presiden RI) memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang dapat menjadi dasar penyetaraan pendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas atau sederajat. Namun, pada saat yang sama, MK tidak membatalkan ataupun mendiskualifikasi Gibran dari posisinya sebagai Wakil Presiden.

· 6 menit baca
Restorative Justice di Sektor Keuangan: Antara Pemulihan Korban dan Batas Kepentingan Publik

Regulatory Update

Restorative Justice di Sektor Keuangan: Antara Pemulihan Korban dan Batas Kepentingan Publik

UU Nomor 4 Tahun 2026 memperkenalkan restorative justice (RJ) untuk tindak pidana sektor jasa keuangan sejak penyelidikan hingga persidangan. Mekanisme ini menekankan pemulihan korban melalui kesepakatan, tetapi tidak boleh dimaknai sekadar “membayar kerugian lalu perkara selesai”. Penerapannya harus menyeimbangkan pemulihan korban, pertanggungjawaban pelaku, kepentingan publik, serta perlindungan terhadap stabilitas dan integritas sektor jasa keuangan.

· 7 menit baca
Menanti UU Perampasan Aset: Belajar dari Penerapan Non-Conviction Based Asset Forfeiture

Regulatory Update

Menanti UU Perampasan Aset: Belajar dari Penerapan Non-Conviction Based Asset Forfeiture

Maraknya tindak pidana korupsi mendorong untuk pembuatan peraturan, supaya memberi efek jera terhadap para pelaku tindak pidana korupsi. peraturan sebelumya sudah membahas secara jelas hukuman untuk pelaku korupsi. akan tetapi, hukuman yang diberikan tidak dapat mengembalikan kerugian negara. maka pengesahan RUU Perampasan aset yang sudah diajukan ke DPR RI dianggap sebagai jalan utama untuk menghukum pelaku dan mengembalikan kerugian negara akibat tindak pidana korupsi.

· 7 menit baca