Lewati ke konten utama
Berbekallah: Makna Takwa di Balik Haji dan Kurban

Berbekallah: Makna Takwa di Balik Haji dan Kurban

26 May 2026 4 menit baca
Artikel Editorial 26 May 2026 4 menit baca

Takwa dan Perintah untuk Berbekal

Setiap kali Idul Adha tiba, kita diajak kembali menelusuri ruh terdalam dari dua ibadah besar yang lahir dari peristiwa yang sama: haji dan kurban. Keduanya bukan sekadar ritual. Keduanya adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan bahwa ketulusan niat tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu berpasangan dengan kesiapan yang nyata.  Di sinilah sebuah ayat al-Qur'an yang kerap disalahpahami oleh sebagai umat Islam, menjadi sangat relevan untuk direnungkan kembali. Sebuah ayat yang lahir tepat dalam konteks haji, namun pesannya melampaui Makkah dan Madinah.

Ada sebuah penggalan dari surah al-Baqarah ayat 197 yang sudah begitu akrab di telinga kita. Namun sebelum kita memahami maknanya, mari kita baca dahulu ayat tersebut secara lengkap:

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 197).

Penggalan terakhir ayat ini “sebaik-baik bekal adalah takwa” apakah yang dimaksud hanya dimensi spritual? Maka penting memahami ayat ini turun: “Dahulu penduduk Yaman berangkat berhaji tanpa membawa bekal. Mereka berkata: “Kami bertawakal kepada Allah.” Namun, sesampainya di Mekkah mereka meminta -minta kepada orang lain. Maka Allah menurunkan ayat “berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Ayat tersebut justru sedang menegur para jemaah haji Yaman yang bermodal nekat tanpa membawa apapun. Mereka beranggapan bahwa karena ibadah haji adalah ibadah Allah maka sudah pasti Allah akan menolongnya. Allah menegurnya. Sebab, implikasinya ialah mereka meminta-minta yang mana tidak sesuai dengan prinsip iffah (menjaga harga diri) sebagaimana dalam Q.S Al Baqarah ayat 273:

“(Apa yang kamu infakkan adalah) untuk orang-orang fakir yang terhalang (oleh jihad atau karena sibuk menuntut ilmu) di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha (berjalan) di bumi. Orang lain yang tidak tahu menyangka mereka kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Kamu mengenali mereka dari tanda-tanda (fisik) mereka. Mereka tidak meminta kepada orang lain secara paksa. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui.”

Maka ayat tersebut mengajurkan untuk mempersiapkan bekal sebelum haji supaya menjaga kehormatan sebagai perwujudan takwa. Bekal disini yang dapat menjaga keselamatan fisik dan rohani yaitu makanan dan minumam. Namun, di era sekarang, Dr. Mohammad Nasih menafsirkan bekal yang terbaik adalah uang. Sebab, dengan uang bisa menyelamatkan dari tindakan meminta-meminta sekaligus bisa menjadi alat untuk bertahan hidup, membeli kebutuhan primer bahkan sekunder seperti oleh-oleh haji.

Refleksi Idul Adha

Refleksi Idul adha tahun ini seharusnya membawa kita pada kesadaran bahwa takwa bukanlah alasan untuk mengabaikan ikhtiar. Justru, takwa yang sejati tercermin dari kesungguhan mempersiapkan diri sebelum berserah diri kepada Allah. Nabi Ibrahim AS tidak hanya menunjukkan kepatuhan spiritual, tetapi juga kesiapan berkorban demi menjalankan perintah-Nya. Dari sinilah haji dan kurban mengajarkan bahwa ketulusan niat tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu beriringan dengan kesiapan yang nyata.

Di tengah realitas kehidupan modern yang penuh ketidakpastian, pesan “berbekallah” menjadi semakin relevan. Umat Islam tidak cukup hanya memiliki semangat religius, tetapi juga perlu membangun kemandirian: ekonomi, pendidikan, pangan, teknologi,  etos kerja, dan kemampuan mempersiapkan masa depan. Sebab, takwa bukanlah sikap pasif yang menyerahkan segala sesuatu tanpa usaha, melainkan kekuatan moral yang mendorong manusia menjaga kehormatan dirinya di hadapan Allah dan sesama manusia. Dalam konteks inilah, bekal tidak hanya dimaknai sebagai makanan dan minuman, tetapi juga kemampuan untuk bertahan hidup secara layak tanpa menggantungkan diri kepada orang lain (berdikari).

Maka, sejatinya tidak berhenti pada ritual penyembelihan hewan kurban semata, melainkan juga menjadi momentum untuk menyembelih pola pikir instan dan fatalistik yang kerap bersembunyi di balik dalih tawakal. Sebab, Allah tidak pernah mengajarkan umat-Nya untuk pasrah tanpa persiapan. “Berbekallah” adalah perintah agar manusia memadukan spiritualitas dengan tanggung jawab, doa dengan usaha, serta tawakal dengan kesiapan yang matang. Dengan demikian, “sebaik-baik bekal adalah takwa” bukan hanya berbicara tentang kesalehan batin, tetapi juga tentang kemampuan menjaga martabat, kemandirian, dan kemuliaan hidup sebagai wujud nyata ketakwaan itu sendiri.

Kegiatan kolaborasi Edulaw Project

Kolaborasi Editorial

Punya topik hukum yang perlu dibahas lebih dalam?

Ajak Edulaw Project mengembangkan tulisan, diskusi, atau serial edukasi hukum yang relevan untuk pembaca Anda.

Baca Juga

Editorial Terkait

Lihat Semua Editorial
Ketika Viralitas Menjadi Jalan Pintas Menuju Keadilan

Edulaw Insight

Ketika Viralitas Menjadi Jalan Pintas Menuju Keadilan

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh informasi, bahkan memperjuangkan hak-haknya. Media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang berbagi aktivitas sehari-hari,...

17 Jul 2026 · 4 menit baca